tugas ekonomi koperasi :Permasalahan ekonomi di Indonesia
Sejak dulu Indonesia terkenal akan keramah-tamahannya dan kekayaannya. Keberagaman ras, suku, kebudayaan merupakan salah satu simbol dan warisan yang kita memiliki dari para leluhur. Yang mana kebudayaan tersebut adalah tradisi yang sudah ada sejak nenek moyang kita lahir yang seharusnya kita perkenalkan kepada anak dan cucu kita guna melestarikan tradisi yang ada. Namun seiring perkembangan zaman, muncullah kebudayaan barat yang saat ini sedang digandrungi oleh para kaum milenial. Kebudayaan ini memunculkan beberapa pengaruh negatif diantaranya banyak kaum pemuda-pemudi yang lebih suka dengan kebudayaan barat dari pada kebudayaan negara kita sendiri.
Tidak hanya mencintai kebudayaannya, akan tetapi pemuda-pemudi Indonesia juga suka mengikuti fashion yang dipakai orang-orang barat. Yang mana fashion ini tidak sesuai dengan ketentuan yang ada di Indonesia. Selain itu, Indonesia juga mempunyai kekayaan alam yang begitu berlimpah serta beberapa destinasi wisata yang begitu indah untuk kita kunjungi. Namun sayang,kebanyakan masyarakat Indonesia lebih memilih menghabiskan waktu liburannya bersama keluarganya ke destinasi wisata yang ada diluar negeri.
Hal ini sungguh sangat disayangkan. Mengapa tidak? Jika dibayangkan banyak wisatawan luar negeri yang datang dari berbagai mancan negara yang mengunjungi destinasi wisata wisata yang ada di Indonesia. Dan mereka sangatlah kagum akan pesona panorama alam yang begitu indah.
Fundamental ekonomi Indonesia dinilai terus menguat. Penguatan itu terlihat dari tingkat pertumbuhan ekonomi yang tinggi. Terbukti, di tengah ketidakpastian ekonomi global Indonesia masih bisa tumbuh 5,02% tahun lalu.
Bank Dunia (World Bank) pun memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2017 ini sebesar 5,2%. Pertumbuhan ekonomi yang lebih kuat serta harga komoditas yang lebih tinggi dinilai menjadi pendorong utama.
"Pertumbuhan ekonomi naik pertama kali dalam 5 tahun terakhir. PDB 2016 bisa mencapai 5,02% dari 4,9% di 2015, itu kabar baik. Setelah penguatan di 2016, pertumbuhan ekonomi 2017 diharapkan akan sangat membantu bagi kenaikan harga komoditas dan diharapkan bisa mendorong pertumbuhan ekonomi 5,2% dan 5,3% di 2018," kata Kepala Perwakilan Bank Dunia di Indonesia, Rodrigo Chaves saat acara Indonesia Economic Quarterly, di Energy Building, SCBD, Jakarta, Senin (22/3/2017).
Pertumbuhan konsumsi rumah tangga juga diproyeksikan akan meningkat karena nilai tukar rupiah yang stabil. Sementara, upah riil yang lebih tinggi dan angka pengangguran yang terus menurun memberi dukungan bagi peningkatan daya beli konsumen .
Pertumbuhan investasi swasta iuga diperkirakan meningkat oleh karena harga komoditas yang sudah pulih kembali, serta efek dari pelonggaran moneter pada 2016 serta reformasi ekonomi baru-baru ini. Pada saat yang sama, harga komoditas yang lebih tinggi juga akan mengurangi kendala fiskal dan meningkatkan belanja pemerintah, sedangkan pertumbuhan global yang menguat akan meningkatkan ekspor.
Namun, Indonesia juga masih perlu mewaspadai kondisi global saat ini. Antara lain dari perubahan dalam kebijakan perdagangan di negara-negara maju, perubahan yang tidak terduga dalam kebijakan moneter AS, ketidakpastian politik di Eropa, meningkatnya inflasi domestik yang berkepanjangan, dan penerimaan fiskal yang lemah memberikan risiko penurunan yang signifikan.
"Pihak otoritas masih waspadai beberapa risiko agar bisa menjangkau setiap peluang secara hati-hati. Peluang juga datang dari perekonomian global sehingga meningkatkan perekonomian Indonesia. Juga harus memastikan pertumbuhan ekonomi berjalan inklusif sehingga memberi peluang bagi seluruh rakyat," kata dia.
Sementara, Bank Dunia memproyeksi laju inflasi bakal melonjak dari 3,5% pada 2016, menjadi 4,3% di 2017 ini. Pendorongnya ialah, adanya penyesuaian tarif listrik dan pajak kendaraan bermotor. Namun demikian, inflasi diproyeksikan akan kembali turun pada tahun 2018, karena hilangnya efek kenaikan harga.
Defisit fiskal juga diproyeksikan akan meningkat oleh karena meningkatnya investasi infrastruktur publik. Keseimbangan fiskal pemerintah pusat diproyeksikan sebesar 2,6% dari PDB pada tahun 2017, lebih besar dan defisit sebesar 2,4% dalam APBN Pemerintah tahun 2017 yang sudah disetujui.
Belanja publik yang lebih tinggi, sebagian karena adanya upaya baru untuk meningkatkan investasi infrastruktur publik, diharapkan sebagian akan diimbangi oleh pertumbuhan penerimaan, yang pada gilirannya akan dihasilkan oleh pertumbuhan PDB yang lebih kuat dan dividen dari reformasi kebijakan administrasi dan perpajakan.
Peningkatan laju inflasi yang berkepanjangan oleh karena kenaikan harga, dapat menimbulkan risiko penurunan yang besar bagi pertumbuhan konsumsi. Terlepas dari gejolak nilai tukar, konsumen pada umumnya sensitif terhadap kenajkan harga, terutama harga makanan, dan konsumsi rumah tangga merupakan bagian dominan perekonomian Indonesia.
Jika inflasi tetap tinggi dan lebih lama dari yang diperkirakan, pengeluaran konsumen dapat menurun, yang mengakibatkan pertumbuhan output yang lebih rendah. Selain itu, Bank Indonesia dapat terdorong untuk memperketat kebijakan moneter, yang juga akan meredam pertumbuhan investasi.
Pada saat yang sama, penerimaan fiskal terus menyebabkan terjadinya risiko penurunan, karena penerimaan yang rendah membatasi pengeluaran fiskal dan investasi infrastruktur yang sangat dibutuhkan.
Komentar
Posting Komentar